Sebatas Mimpi
Jika ada kontes orang terkutubuku di dunia, maka mungkin Iwe yang memenangkannya. Ya, karena Iwe, 3 SMU, adalah tipe pelajar sempurna yang mempunyai sobat karib seperti buku pengetahuan dan komputer. Yang terakhir ini dilengkapi dengan Internet. Tentu saja bukan untuk melihat apa yang pelajar “nakal” lihat atau sekedar untuk memuaskan jiwa haus ilmu yang rasanya sudah menjadi salah satu kebutuhan dasar hidupnya. Mengenai fisiknya, hmm, dia adalah orang terganteng di dunia (itu kata bokapnya) kalau kata teman-teman dia sih, lumayan…untuk bantu-bantu ngepel rumah.
Yah, begitulah wajahnya memang kurang dari sempurna bin amburadul, apa lagi dengan kacamata yang bikin matanya kelihatan seperti biji kwaci dari depan, rambutnya yang heboh ( bikin emosi ), dan tubuh kurus yang item, lengkaplah penderitaannya. Maka dengan kekuperannya (dampak negatif dari seorang kutubuku) dan kekurangan fisiknya, dia susah mendapat teman. Malah, dia belum punya sama sekali. Teman-temannya menjauhinya, karena dia adalah orang yang engga “asyik” untuk diajak bergaul. Levelnya beda, kata salah satu saksi. Bagaimana pun juga, tanpa sepengetahuan mereka, Iwe adalah anak yang sopan dan baik hati. Tragis yah?
“Hah? Lo mo jodoin gue?”, tanya Dina. Dina sendiri, seperti namanya, mungkin merupakan salah satu wanita yang tercantik yang pernah ada. Rambutnya yang panjang, gayanya yang lembut, dan matanya yang sayu, adalah pencerminan dari kesempurnaan ciptaan Tuhan. Tapi…lain dengan hatinya. Hatinya buruk sekali. Karena kecantikannya, dia sombong dan angkuh. Sikapnya dingin dan melecehkan kepada lawan jenisnya. Untungnya bagi Dina, dia cantik, maka dia populer di kalangan sekolah dan pergaulan-pergaulan remaja lain. Dia juga terkenal sudah membintagi beberapa film. Katanya sih, dia pernah main film-film kartun Indonesia. Dia juga beberapa kali menghiasi halaman-halaman majalah SMU sebagai model, model kaos kaki. Dina lalu berjalan melintasi kamarnya di rumahnya yang megah itu.
“Iya, Din, lo kan belon dapet-dapet pacar! Lo udah kelas 3 SMU lho! Kapan lagi? Nah, gue ada orang yang cocok untuk lo, Din!”, ucap Ayu, sepupu Dina yang sepantaran dengannya.
“Yee…itu karena gue aja yang pemilih, gue bisa kapan pun pacaran. Gampang, Yu`! Gampang! Eh, lo ada fotonya gak?”
Ayu menyerahkan foto orang yang luar biasa tampan. Bayangin aja kalau Primus + Anjasmara diblender jadi satu. Dina berdecak-decak kagum. Dia menggeleng-geleng persis kaya ikan lele keluar dari air. “Gile bener…lo punya temen kaya gini gak bilang-bilang! Kenalin dong!”, Dina merajuk. Ayu tersenyum. “Sini, biar gue comblangin! Lo tulis aja surat pendek, bilang hai atau kenalan yuk atau apa gitu kek.”, kata Ayu
“Heh? Sorry ya! Gengsi gue kemana, man? Lo suruh aja dia minta kenalan ke gue dulu. Temen sekolah lo kan?”, Dina menjaga kesombongannya. Ayu hanya mengangguk. Dia tersenyum, nakal.
* * *
Esoknya, di sekolah, Ayu langsung mendatangi orang yang akan dicomblangnya kepada Dina. Orang itu ternyata bedaaaa banget dengan di foto. Orang itu adalah Iwe (yang sudah diceritakan tadi di awal cerita, inget kan?). Rupa-rupanya ada udang di balik tempura. Ayu punya niat mau ngerjain sepupunya yang sombong itu. Iwe dia suruh untuk menulis surat permohonan kenalan pada Dina (duile…mau kenalan aja harus pake surat permohonan segala), malah tadinya Dina bilang harus pakai cap dari kelurahan, tapi setelah Ayu memohon-mohon. Yah, cukup tanda-tangan saja.
“J-j-jadi, aku bisa dapat pacar? Asyik…nanti kamu ajarin aku pacaran yah! Aku belum pernah sama sekali nih…”, Iwe kegirangan saat dia dengar Dina naksir dia (tentu saja bohong!).
“Ye elah…lo buat aja dulu suratnya, anaknya cantik kok, dia bilang dia ngebet banget ama rambut yang bikin emosi lo en’ pala peyang lo. Tenang aja, gue comblangnya, lo gak usah takut!”
“Centong? Apaan sih centong? Lapar ya?”, Iwe kebingungan. “Comblang, dodol! Aduh nanti gue jelasin, sini suratnya.” Suratnya cukup singkat. Tapi yang menarik adalah permakaian kata-katanya, khas orang terpelajar, bagus dan menarik hati. Tapi…ada sedikit aku-kamu yang harus diganti jadi gue-lo. Gampang, pikir Ayu. Bret! Terdengar suara seperti celana robek. “Eh? Apaan tuh, Ayu?”, Ayu bertanya-tanya. “Umm…Anu…aku…kentut..dikit sih, gak bau kok!”. Ya amplop, jujur bener. Ayu langsung ambil langkah seribu.
Surat permohonan itu sampai ke tangan Dina. Dia senang sekali membaca surat yang indah itu. Maka, hubungan mereka pun berlanjut. Surat-suratan dilakukan terus-menerus. Tentu saja dengan bantuan Ayu (yang juga mensensor kata “aku” dan “kamu” dari setiap surat Iwe.). Bahkan, mereka sudah mulai telpon-telponan. Dan sekitar sebulan setelah mereka berhubungan seperti itu, Iwe, yang belum pernah melihat Dina sebelumnya, mulai merasakan cinta yang seharusnya dia dapat beberapa tahun lalu. Sedangkan Dina, yang benar-benar menjadikan Iwe (yang berwawasan luar dan pintar sekali) teman curhatnya, teman yang bisa diajak ngobrol dikala ada masalah, atau sekedar pengusir kebetean semata. Setiap Dina ada masalah, pasti ada Iwe memberikan penyelesaian-penyelesaian yang bijaksana. Maka, Dina pun mulai merasakan cinta.Tapi tentu saja 99% dari cintaya itu berdasarkan bayangan Dina tentang Iwe yang luar biasa tampan seperti foto yang ditunjukkan Ayu (yang tentu saja merupakan kebohongan besar).
Lalu datanglah hari yang istimewa, Dina ultah. Di hari ultahnya itu Dina mengundang Iwe untuk menghadiri pesta ultahnya yang dirayakan di sebuah cafĂ© terkemuka. Irshan menyanggupinya dan berkata dia akan datang. Sesungguhnya, ini adalah pesta pertama untuk Iwe, dan dia tidak tahu persiapan dan baju apa yang harus dia kenakan. Maka, dengan berbekal sedikit buku pesta. Dia bersiap-siap untuk pergi ke pesta itu. Di hari yang ditentukan, Iwe terlihat siap. Rambutnya yang keriting dia coba belah tengah, yang membuatnya jadi tampak konyol. Dia memakai tuxedo dan hem biru, ditambah dengan dasi kupu-kupu yang lumayan besar. Iwe bangga pada dirinya. Dia menganggap bahwa dia adalah orang yang keren sekali saat itu. Tapi…dilain pihak, jika ada orang yang melihatnya seperti itu, tentu saja dia akan dicap norak dan konyol. Sayangnya, Iwe tidak tahu apa-apa.
* * *
Suasana pesta itu amat meriah. Manusia-manusia funky dan gaul datang kesana. Cewe-cewenya berpakaian sexy dan menarik. Dan pestanya berlangsung dengan cara anak muda, hura-hura. Semboyan “Have fun go mad” terlihat banget diterapkan secara baik. Dina, yang berultah, sekaligus menjadi bunga pesta itu terlihat gelisah menunggu kehadiran Iwe. Dia sudah cerita ke hampir semua tamunya kalau hari ini gebetannya akan datang, gebetannya yang cakepnya melebihi cover boy. Alhasil, tak lama kemudian datang Iwe. Dengan bunga dikanan dan coklat dikiri dia memasuki ruang pesta. Orang-orang tertawa melihat mukanya dan dandanannya yang freak abis. Dina sendiri terpingkal-pingkal. “Siapa tuh? Main dateng ke pesta gue aja, Belum tau si Iwe, gebetan gue itu.”, kata Dina pada tamu-tamunya. Melihat kondisi seperti itu, Iwe bertanya setengah berteriak, “H-h-hallo teman-teman, aku mau nanya, apakah ada yang bernama Dina disini, saya Iwe.” Dina yang di pojokan terperanjat. “Haaaaaah????!!!!! Jadi selama ini lo ngerjai gue, Yu`r?”, teriak Dina. “Iya, gue iseng aja, lumayan kan?”. Dina merah padam. Dia malu sekali. Tamu-tamunya makin kencang tawanya. “Jadi, ini gebetan lo, Tan?” atau “Masih cakepan pembokat gue!” terlontar dari mulut mereka. Dina benar-bentar malu. Dia lari keluar ruangan. Iwe bengong. Ayu jadi engga enak. Sedangkan tamunya masih tertawa-tawa saja.
Di luar, hujan turun. Tubuh Dina sedikit basah kuyup, tetapi matanya kebanjiran. Dia sedang menunggu taksi lewat. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Aku sudah dengar singkatnya dari Ayu. Kamu pasti kecewa, ya?” Itu adalah Iwe, dia membawa payung dan menyerahkannya ke Dina. Iwe basah kuyup. “Masuklah, Tan. Ini pestamu. Aku engga mau merusaknya. Tenang saja. Kamu engga akan mendengar tentangku lagi kok. Rasanya, memang selamanya aku tidak akan punya teman, eh?”, Iwe melangkah menjauh diterpa hujan yang semakin deras. “Iwe, kenapa lo begitu baik sih?”, tanya Dina. “Lucu, rasanya aku jatuh cinta…pada teman pertamaku.”, ucap Iwe tanpa menengok. “Cinta? Hah! Kamu engga pernah melihat foto dan tampangku selama ini kan?”
“Dulu, seorang bijak pernah berkata begini padaku, cinta tidak berdasarkan mata, namun berdasarkan hati. Jika kamu menemukan cinta, kejarlah dalam keyakinanmu. Tak usah engkau mendongak untuk melihat wajah mereka, pandanglah lurus…pandanglah lurus kedalam hati mereka. Karena, disitulah cinta bersembunyi.”, Iwe tersenyum. Dia melangkah lebih jauh, kali ini lebih cepat, sebentar saja dia sudah hampir tidak kelihatan.
Dina terhenyak, seketika itu kesombongan dan keangkuhannya runtuh. Dia ingat kembali betapa baik Iwe untuk menemaninya ngobrol dan membantu memecahkan masalah-masalahnya. Dia ingat betapa bijak Iwe dalam mendengar curhatnya. Dia sekarang menyadari cinta Iwe cinta tulus dan lembut. Bukan cDinaya yang munafik. Tangisnya semakin kencang. Dia menyesal karena baru kali ini hatinya terbuka. Baru kali ini dia menyadari bahwa tidak ada yang lebih mulia dari hati seseorang yang mencintai, dengan cinta yang tulus. Setengah berteriak, Dina berkata, “Iwe, aku cinta padamu!!!!” Percuma, Iwe sudah jauh sekali, apa lagi hujan semakin deras, yang membuat suara Dina tidak mungkin terdengar olehnya. Dina menunduk.
Biar kunikmati tiada kuingkari
Kau tetap di hati tak pernah terganti . . . . .
Biar brapa lama kumesti mendamba
Datangnya waktu berbagi hanya untukmu . . . . .
Akan ku tunggu . . . . .
Iwe melagukan lagu itu di tengah hujan. Sebagai ucapan hatinya kepada Dina. Sayang sekali Iwe sudah jauh dari Dina. Dia tidak mendengar ucapan cinta dari Dina tadi. Iwe pun menganggap Dina benar-benar tidak cinta kepadanya. Dia memandang ke atas. Langit begitu berbDinag malam itu. Dia berguman, “Aku cinta padamu Dina, selalu.”
My Iron Lung a.k.a KirD a.k.a Iwe a.k.a izmailov
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





0 comments
Post a Comment