Naga Bonar

Posted by Maywan Suprihartanto | 2:04 PM | 0 comments »

Jendral Naga Bonar



Dengan setting tanah Batak di masa awal kemerdekaan, dikisahkanlah kehidupan si Nagabonar (Deddy Mizwar), si tukang copet ulung. Dia punya sahabat setia yang namanya Bujang (Afrizal Anoda). Saking setianya, setiap kali Nagabonar ketangkep dan masuk penjara, si Bujang ikutan masuk penjara meskipun nggak ikut nyopet. Katanya sih biar bisa makan gratis teratur :D

Nagabonar

Tapi begitu mendengar dari Bang Pohan (Piet Pagau) kalo Indonesia sudah merdeka, lalu Belanda berusaha merebut negri ini kembali, Naga dan teman2nya ikut mengangkat senjata untuk melawan Belanda. Dan ternyata Nagabonar meskipun gayanya selengekan dan tukang nyopet gitu, rupanya punya kharisma sebagai seorang pemimpin. Naga bahkan akhirnya memimpin pasukan sendiri dan melakukan perang gerilya melawan Belanda.

Hingga satu saat Nagabonar dan pasukannya dapat perintah mundur dari Bang Pohan, tidak lagi menyerang Belanda karena perjanjian gencatan senjata telah disepakati. Maka mereka pun mundur dan menetap di satu tempat untuk beberapa saat. Dalam rombongan mereka termasuk juga Emaknya Nagabonar (Roldiah Matulessy) yang tetap menganggap Naga bekerja sebagai pencopet, lalu ada juga seorang 'tawanan' Kirana (Nurul Arifin) putri dokter Zulmi (Kaharuddin Syah) yang dituduh antek Belanda.

Nagabonar

Belanda mengajak Nagabonar merundingkan garis demarkasi. Sebelum perundingan, demi harga diri Nagabonar dan teman2nya memutuskan untuk memberikan pangkat kemiliteran kepada diri mereka masing2. Atas usulan Lukman (Wawan Wanisar) yang paling terpelajar, Nagabonar menjadi Jendral, Murad (Mustafa) dapat Kolonel, Jono Letnan Kolonel, Lukman sendiri menjadi Mayor. Lukman yang rada sentimen sama Bujang hanya memberikan pangkat Kopral untuk Bujang. Bujang pun protes keras. Tapi Nagabonar tak mampu memprotes keputusan Lukman karena tahu ia tak akan bisa mendebat Lukman.

Dalam perundingan dengan Belanda, Nagabonar tidak mau menunjukkan lokasi pasukannya karena ia tahu akal licik Belanda. Yang terjadi malah Naga sempat2nya mencopet jam tangan Mayor Belanda yang kemudian ia hadiahkan untuk Bujang, agar Bujang terhibur meskipun pangkatnya cuma kopral tapi jam tangannya Mayor :D

Nagabonar

Nagabonar diam2 ternyata naksir Kirana, dengan bantuan Bujang ia berusaha mendekati Kirana. Tapi banyak tantangan untuk merebut hati Kirana. Teman seprofesi Naga, profesi pencopet maksudnya, yang juga memimpin satu pasukan di tempat lain ternyata juga ingin memiliki Kirana. Mariam namanya, mariam ini cowok tentunya.. kayak mariam tomong gitu. Mariam dan pasukannya datang ke tempat Naga bersenjata lengkap untuk meminta Kirana. Naga mengajaknya bertanding catur untuk menentukan siapa yang berhak atas Kirana. Dengan sedikit curang Naga menang, Mariam nggak trima. Tembak-menembak antar teman pun terjadi :( gara-gara wanita pula :O ... Mariam tertembak kakinya dan menyerah, merelakan Kirana untuk Nagabonar.

Naga terserempet peluru di lengannya. Kirana yang anak dokter merawat luka Naga. Dan mulailah benih2 kasih bertebaran.

Nagabonar

Sementara itu si Bujang merasa sangat kesal sama Lukman, karena dia dianggap bawahan yang disuruh2 melulu oleh Lukman. Bujang bertekad untuk membuktikan siapa yang lebih hebat. Hingga satu pagi Naga kehilangan satu set seragamnya lengkap dengan tanda pangkat, tongkat, dan topi bulunya. Murad melaporkan bahwa Bujang pada waktu subuh telah nekat membawa pasukan untuk menyerang Belanda.

Dan siang harinya... pasukan itu kembali dengan membawa si Bujang yang telah terkulai tak bernyawa di atas kuda. Bujang mengenakan seragam dan semua atribut milik Nagabonar. Nagabonar tak mampu berkata apa2. Dia lari ke tempat tinggalnya untuk menangis dan meneriakkan nama Bujang berkali2. Saat penguburan Bujang, Naga mengenakan seragamnya yang berlumuran darah si Bujang dan mengucapkan kalimat yang banyak diingat orang:

Nagabonar

"Buujaaaang...
Kau sudah kulaaarang bertempur... Tapi kau bilang kau maaau bertempur..
Kubilang jaaaangan bertempur, tapi kau bertempur juga...
Itulah... sekarang matilah kau...
Kubur!"


Dalam kesedihan kehilangan Bujang teman baiknya, Naga mengunjungi Kirana lagi. Naga curhat ke Kirana kalau ia merasa kesepian dan sendirian. Kirana menghiburnya dengan mengatakan kalau Naga tidak sendirian. "Masih ada aku...", kata Kirana... huuuhuy!! Besoknya Naga meminta emaknya untuk melamar Kirana. Tapi emaknya malah menasehati Kirana agar tidak percaya sama kata2 Naga... hihihi.

Belanda akhirnya melanggar sendiri perjanjian gencatan senjata. Naga pun segera menyiapkan pasukan untuk kembali menyerang Belanda. Kirana bilang kalau dia ingin ikut bertempur di garis depan bersama Naga. Nagabonarpun menyetujui, dan memberi Kirana pangkat PERMAISURI!

Nagabonar

Di garis depan, mereka berdua meneriakkan kalimat yang sering diucapkan Bang Pohan untuk menyemangati pasukannya:

Hai Pemuda Indonesia,
Bangkitlah kau semua
Negeri kita sudah merdeka
Genderang perang sudah berbunyi
Dengarkan panggilan Ibu Pertiwi...


BF??

Kalo dilihat endingnya, cerita utamanya ternyata bukanlah soal perjuangan melawan penjajah. Karena cerita perjuangan itu nggak selesai waktu filmnya selesai. Scene perangnya sendiri juga terkesan seadanya, nggak terlalu hebat dan jauh dari kolosal. Cerita utama sebenernya adalah kisah cinta Nagabonar dan Kirana, dengan latar belakang masa perjuangan.

Jadi film ini bukanlah BF... alias Bilem Ferjuangan :p (guyonan garink kriuk kriuk ala Sersan Prambors). Mungkin lebih tepat kalo film ini masuk genre Komedi, karena memang dialog dan adegannya dibikin konyol. Didukung juga dengan scoring musik yang bernuansa komikal dengan mengambil nada lagu "Mariam Tomong". Nggak perlu mikir terlalu njelimet untuk mengikuti ceritanya. Cocok dengan perintah Naga pada si Lukman yang juga jadi kalimat yang lumayan memorable dari film ini:

"Kau kuperintahkan... untuk berhenti berpikir
Kalau kau berpikir aku jadi ikut berpikir
Susah aku...
Jadi berhentilah kau berpikir!"

Nagabonar

Film ini juga bukanlah BF dalam arti sebenarnya ... meskipun ada adegan saat Nurul Arifin lagi dipijat punggungnya dalam posisi berbaring... TOPLESS coy! ... ugh.. uhuk uhuy!.. Meskipun juga ada beberapa adegan dimana para figurannya polos.. berlarian telanjang tanpa sehelai benangpun... anak-anak tapinya... :p

Pemainnya Kawakan

Deddy Mizwar total banget memerankan Nagabonar. Logat bataknya dapet banget, karakter Nagabonar yang rada bengal juga berhasil diinterpretasikan dengan baik. Dia juga rela tampil berwajah gembil jelek dengan pipi bawah yang selalu ngejendul sebelah, entah karena dia ikut2an nyirih kayak emaknya atau lidahnya yang kepanjangan :D. Ya siapa sih yang meragukan kemampuan akting Deddy Mizwar, baik itu dalam film drama serius maupun komedi.

Afrizal Anoda juga sebenernya cukup berhasil memerankan Bujang, yang polos dengan topi bajanya yang kebesaran. Cuman sayang raut mukanya terlalu serius dan pemikir untuk karakter Bujang yang seharusnya lugu dan naif. Malah Emak Nagabonar yang diperanin Roldiah Matulessy yang diganjar piala Citra untuk aktris pendukung terbaik, emang masuk banget sih jadi emak yang cerewet, meskipun jarang nongol.

Nagabonar

Nurul Arifin ya harap dimaklumin saja kalau masih rada kaku, film ini adalah film debutan dia. Hebat juga pendatang baru langsung dapet posisi peran utama wanita di film sehebat ini. Yang jelas sih kehadiran wajah malu2 Nurul Arifin yang tampak manis dengan make up tipis (halah berima gitu..) di film ini memang sangat menyegarkan... ;)

Sukses dan Sekuel

Film ini jelas adalah salah satu Master Piece di jaman 80-an. Kabarnya film ini adalah film Indonesia pertama yang menggunakan direct sound, alias suara aktornya langsung direkam bersamaan dengan pengambilan gambar. Kabarnya lagi ini adalah film Indonesia pertama yang masuk seleksi Film Berbahasa Asing di ajang Academy Award alias Oscar, meskipun tidak bisa berbicara lebih banyak lagi.

Bukan cuma mendapat banyak penghargaan atas kualitasnya, tapi film ini juga sukses mendatangkan penonton saat diputar di bioskop di seluruh nusantara. Bahkan sanggup bertahan hingga berbulan-bulan. Karena memang ceritanya ringan dan mampu menghibur semua lapisan masyarakat.

Dan sah-sah saja kalau saat ini, dua puluh tahun kemudian, Deddy Mizwar sendiri menggarap sekuelnya. Tentunya dengan harapan akan bisa meraih sukses seperti pendahulunya. "Nagabonar (jadi) 2" itu kabarnya judul dari sekuel film ini. Tora Sudiro akan menjadi Bonaga anak Nagabonar. Hmmm... melihat film2 produksi Deddy Mizwar sebelumnya, tampaknya cukup menjanjikan juga nih film di tengah banjir film horror nggak jelas.

0 comments